Tampilkan postingan dengan label keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keuangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juli 2012

MONEY MANAGEMENT

(1) JANGAN MENGATUR KEUANGAN SESUAI GAYA HIDUP ANDA. ATUR GAYA HIDUP SESUAI KEUANGAN ANDA.

Pertandingan dalam hidup ini adalah “memiliki lebih” dari yang lain. Ini pertandingan yang melelahkan, karena selalu ada orang yang “lebih” dari kita.

(2) SIMPLIFY : BUKAN "BAGAIMANA SAYA BISA DAPAT LEBIH LAGI" MELAINKAN "APA YANG BISA SAYA KURANGI.”

Di Jepang tempat tinggal sangat sempit, tidak jarang ruang bermain, diubah menjadi ruang makan, lalu menjadi ruang tidur. Karena itu,
orang tidak bisa membawa banyak barang ke rumah, walaupun mereka sanggup membelinya. Pertanyaan penting sebelum membeli barang: “Apakah saya bisa hidup tanpa barang ini?” Bila jawabannya “Ya”, sudah
pasti barang itu tidak dibeli. Don't clutter your life with material things & demands.

(3) HEMAT TAPI JANGAN PELIT.

Hemat berarti menggunakan sesedikit mungkin untuk memenuhi kebutuhan
diri kita, supaya ada yang bisa saya berikan bagi orang lain. Pelit berarti menyimpan apa yang seharusnya dibagikan pada orang lain, supaya diri kita memiliki lebih. Bagus bila kita hemat, tapi jangan
pelit. Ingat Tuhan sanggup memelihara kita.

(4) CUKUPKAN DENGAN APA YANG ADA

Seorang konglomerat ditanya, “Kapan Anda merasa cukup?” Jawabnya “Sedikit lagi”, tidak pernah selesai. Belajar hidup dengan apa yang ada. Belajar memberi, bukan menumpuk lebih lagi. Bersyukur dengan apa yang kita miliki, bukan menggerutu karena apa yang belum didapatkan.

BAIK UNTUK MEMILIKI UANG DI TANGAN, TAPI JANGAN DI HATI

({}) бöϑ ♥ ϐłêšš ♥ Ƴöů ({})

Senin, 13 Juni 2011

Perencanaan Keuangan

Konsultan perencanaan keuangan, Safir Senduk, mengamati banyak orang Indonesia terjebak gaya hidup konsumtif. Mereka sering kali membeli barang karena keinginan, bukan karena memang membutuhkannya.

Ia berkata, ”Akibatnya, banyak orang terjerat utang. Mereka menjalani hidup dengan ’gali lubang tutup lubang’. Sebaiknya belilah barang sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan.”

Pria yang sudah menulis sejumlah buku tentang perencanaan keuangan keluarga itu memberi saran agar orang membayar tunai saat membeli barang yang nilainya cenderung merosot. Ia berkata, “Mengapa harus membeli kredit jika bisa tunai? Sebab, dengan membeli kredit nilai barang yang dibeli makin turun, padahal kita telah membayar dengan harga lebih mahal.”

Safir yang juga laris sebagai pembicara di berbagai tempat ini menambahkan, mereka yang berpenghasilan besar belum dapat dikatakan kaya jika pengeluarannya pun besar. Sebaliknya, mereka yang bergaji kecil, tetapi dapat mengelola keuangan dengan cerdas, bahkan melakukan sejumlah investasi, layak disebut kaya. Jadi, biar layak disebut kaya, belilah barang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Itulah kondisi banyak orang Indonesia sekarang ini. Keinginan untuk menumpuk barang-barang begitu tinggi. Akibatnya, orang mengejar sesuatu memenuhi keinginan dirinya. Apa saja yang dirasa diinginkan, orang membelinya. Orang kurang seleksi antara apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan dan apa yang diinginkan.

Banyak orang lalu terjebak dalam suasana hidup konsumeristis. Kalau sudah terjebak, orang akan sulit sekali untuk keluar dari situasi seperti itu. Seorang ibu yang membiasakan anak-anaknya untuk secara selektif dalam berbelanja, misalnya, tidak akan mengalami kesulitan dalam banyak hal. Ia akan dengan mudah mengatur kebutuhan-kebutuhan hidup anak-anaknya.

Karena itu, pengelolaan keuangan dalam keluarga mesti dilakukan secara cermat. Di jaman ekonomi sulit seperti sekarang ini, keluarga-keluarga mesti pandai-pandai menggunakan pendapatannya untuk
Linna: keberlangsungan hidup keluarga. Untuk itu, mereka mesti memutuskan apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan dalam hidup mereka. Mereka tidak bisa saja membeli sesuatu untuk memenuhi keinginan mereka belaka.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk secara cermat dan bijaksana mengatur ekonomi rumah tangga kita. Hal ini juga bagian dari iman kita. Tuhan memberkati.