Rabu, 25 Desember 2013

SUMBER SUKACITA

Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersuka-cita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu (2Korintus 6:10)

Paul Gerhardt, seorang pendeta di Jerman pada abad 17, memiliki segudang alasan untuk tak bersukacita. Istri dan keempat anaknya meninggal dunia;

Perang Tiga Puluh Tahun telah membinasakan warga dan menghancurkan Jerman; konflik gereja dan guncangan politik mengisi hidupnya dengan penderitaan.

Namun, di tengah-tengah penderitaan pribadinya yang hebat, ia menulis lebih dari 130 hymne yg kebanyakan diwarnai sukacita dan ketaatan kepada Yesus Kristus.

Berikut kutipan lirik salah satu hymne karya Gerhardt, "Holy Spirit, Source of Gladness":

Biarkan kasih yang tidak mengenal batas
Mengalir bagai hujan yang deras,
Memberi kita harta tak ternilai harganya
Yang didamba manusia, dan yang Allah beri;

Dengarkan kesungguhan permohonan kami,
Tiap hati yang berat menjadi berseri;
Tinggal dalam persekutuan,
Roh yang penuh kedamaian.

Karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus (Roma 5:5), adakah situasi di mana kita tak dapat mengalami sukacita yang Dia berikan?

Selama melewati masa penderitaan besar, Rasul Paulus menggambarkan pengalamannya itu seperti "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu" (2Korintus 6:10).

Duka dan penderitaan adalah kenyataan hidup yang tak dapat dihindari. Namun, Roh Kudus adalah sumber sukacita kita, "memberi kita harta tak ternilai harganya yang didamba manusia, dan yang Allah beri" --DCM

KEBAHAGIAAN BERGANTUNG PADA PERISTIWA YANG KITA ALAMI, TETAPI SUKACITA BERGANTUNG PADA YESUS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar