Selasa, 06 Desember 2011

Layang-layang

"Dengarkanlah nasehat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak dimasa depan (Amsal19:20) 

Di suatu sore, tampak bbrp anak sdg bermain layangan. Salah satu layang2 berkata dlm hatinya "Aku kesal. Aku mau terbang tinggi, setinggi-tingginya, tanpa ada yg menahan. Tapi kenapa aku harus diikat dgn benang? Aku jadi tidak bisa terbang dgn bebas!"

Angin pun lalu bertiup kencang.
"Ah, anginnya kencang", lanjut si layang2.
"Aku akan mendekati layangan lain, supaya benangku bisa putus. Nanti aku dpt terbang tinggi! Bebas lepas!"

Maka dng dorongan angin, si layang2 pun berusaha mendekati layangan lain, membiarkan benangnya bergesekan dng benang mereka. Sesaat kemudian, benangnya putus!

"Akhirnya, putus juga! Sekarang aku bisa terbang semauku, naik tinggi sesukaku!"

Tapi kemudian apa yg terjadi?
"Loh?!? Kenapa ini? Kok aku jatuh?"
"Krosak!" Layang2 itu jatuh & tersangkut di atas pepohonan.

"Ah, aku tersangkut! Kenapa begini? Bukannya terbang tinggi, aku malah tersangkut di pepohonan" kata si layang2  sedih.

"Sekarang aku tahu", lanjut si layang2.
"Justru karena aku terikat benang, makanya aku bisa tetap melayang di udara. Ternyata benang itu yang membuat aku bisa tetap terbang"

Hati manusia sama spt layang2 tadi. Pada dasarnya manusia ingin utk hidup bebas sesuka hati, tanpa peduli nasihat & didikan. Sering kita pikir nasihat & didikan adl sesuatu yg mengekang. Padahal kedua hal itu sebenarnya sama seperti benang pd layangan: itulah yg membuat kita tetap terbang & berhasil.
Saat hati kita akan membuat pilihan yg salah, benang 'nasihat & didikan' menarik kita utk tetap ada di jalan yg benar. Saat hati kita mulai sombong krn ada di puncak keberhasilan, benang 'nasihat & didikan' menarik kita kembali utk rendah hati.

Nasihat & didikan bisa didapat dari sekeliling kita, tp yg utama adl dari TUHAN.
Krn TUHAN adl sumber nasihat & didikan yg paling benar. Biarlah hati kita selalu terbuka utk nasihat & didikan, shg kita dpt tetap 'terbang melayang'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar