Selasa, 27 Maret 2012

Kebahagiaan Yang Menular.

Seorang pemuda berangkat kerja di pagi hari memanggil taksi dan naik.

"Selamat pagi Pak", katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu.

"Pagi yg cerah bukan?" sambungnya sambil tersenyum, lalu bersenandung kecil.

Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dengan senang hati ia melajukan taksinya.

Sesampainya ditempat tujuan pemuda itu membayar dengan selembar 20ribuan, untuk argo yang hampir 15 ribu.

"Kembaliannya buat bapak saja, selamat bekerja pak", kata pemuda dengan senyum.

"Terima kasih", jawab pak sopir taksi dengan penuh syukur.

"Wah, aku bisa sarapan dulu nih", pikir sopir taksi itu, dan ia pun menuju ke sebuah warung.

"Biasa Pak?" tanya si mbok warung.
"Iya biasa, nasi sayur, tapi pagi ini tambahkan sepotong ayam", jawab pak sopir dengan tersenyum.

Dan, ketika membayar nasi, ditambahkannya seribu rupiah, "buat jajan anaknya si mbok", begitu katanya.

Dengan tambahan uang jajan seribu, pagi itu anak si mbok berangkat ke sekolah dengan senyum lebih lebar.

Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini, dan diberikannya pada temannya yang tidak punya bekal.

Begitulah cerita bisa berlanjut, bergulir seperti bola salju.

Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu, begitu juga keluarga si mbok, teman-teman anak si mbok. keluarga mereka, semua tertular kebahagiaan.

Kebahagiaan seperti juga kesusahan, bisa menular kepada siapa saja di sekitar kita.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan, sudahkah kita menularkan kebahagiaan hari ini?

Bisa menerima itu adalah berkah, tapi bisa memberi adalah anugerah.

Mari selalu berbagi, semoga ada arrus membahagiakan yang terus berputar dan jangan pernah dengki dengan kebahagiaan yang dimiliki orang lain, apalagi berusaha menghilangkannya.

Semoga sisa hidup kita selalu bahagia dan membuat orang lain bahagia dengan keberadaan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar