Senin, 13 Juni 2011

Perencanaan Keuangan

Konsultan perencanaan keuangan, Safir Senduk, mengamati banyak orang Indonesia terjebak gaya hidup konsumtif. Mereka sering kali membeli barang karena keinginan, bukan karena memang membutuhkannya.

Ia berkata, ”Akibatnya, banyak orang terjerat utang. Mereka menjalani hidup dengan ’gali lubang tutup lubang’. Sebaiknya belilah barang sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan.”

Pria yang sudah menulis sejumlah buku tentang perencanaan keuangan keluarga itu memberi saran agar orang membayar tunai saat membeli barang yang nilainya cenderung merosot. Ia berkata, “Mengapa harus membeli kredit jika bisa tunai? Sebab, dengan membeli kredit nilai barang yang dibeli makin turun, padahal kita telah membayar dengan harga lebih mahal.”

Safir yang juga laris sebagai pembicara di berbagai tempat ini menambahkan, mereka yang berpenghasilan besar belum dapat dikatakan kaya jika pengeluarannya pun besar. Sebaliknya, mereka yang bergaji kecil, tetapi dapat mengelola keuangan dengan cerdas, bahkan melakukan sejumlah investasi, layak disebut kaya. Jadi, biar layak disebut kaya, belilah barang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Itulah kondisi banyak orang Indonesia sekarang ini. Keinginan untuk menumpuk barang-barang begitu tinggi. Akibatnya, orang mengejar sesuatu memenuhi keinginan dirinya. Apa saja yang dirasa diinginkan, orang membelinya. Orang kurang seleksi antara apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan dan apa yang diinginkan.

Banyak orang lalu terjebak dalam suasana hidup konsumeristis. Kalau sudah terjebak, orang akan sulit sekali untuk keluar dari situasi seperti itu. Seorang ibu yang membiasakan anak-anaknya untuk secara selektif dalam berbelanja, misalnya, tidak akan mengalami kesulitan dalam banyak hal. Ia akan dengan mudah mengatur kebutuhan-kebutuhan hidup anak-anaknya.

Karena itu, pengelolaan keuangan dalam keluarga mesti dilakukan secara cermat. Di jaman ekonomi sulit seperti sekarang ini, keluarga-keluarga mesti pandai-pandai menggunakan pendapatannya untuk
Linna: keberlangsungan hidup keluarga. Untuk itu, mereka mesti memutuskan apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan dalam hidup mereka. Mereka tidak bisa saja membeli sesuatu untuk memenuhi keinginan mereka belaka.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk secara cermat dan bijaksana mengatur ekonomi rumah tangga kita. Hal ini juga bagian dari iman kita. Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar